Mungkin ada yang pernah membaca di media-media tentang kejahatan
penjambretan dengan modus pembocoran ban dengan ranjau paku? Pagi tadi
saya sendiri telah menjadi korbannya...
Alhamdulillah
harta yang sangat berharga bagi saya berhasil saya selamatkan. Berikut
pengalaman saya mudah-mudahan bisa menjadi pelajaran agar lebih
berhati-hati.
Seperti biasa saya berangkat dari Depok ke Jakarta sekitar jam 9 pagi.
Perjalanan seperti biasa, mengambil jalur Depok - Jalan Raya Bogor -
Cililitan - Jakarta, kondisinya ramai lancar. Sampai di sekitar 200
meter setelah Cijantung tiba-tiba saya merasakan ada yang tidak beres
dengan ban saya, terdengar suara
gluduk-gluduk.
Saya tepikan mobil, dan benar saja, ban sebelah kiri belakang bocor
habis. Saya ambil elektrik kompresor dan saya coba pompa ban tersebut.
Sekitar 5 menit kemudian, muncul bapak-bapak, sekitar 50 tahun.
Bapak-bapak itu menanyakan "bocor ya mas?". "Iya Pak, ada tambal ban
deket sini nggak ya?", tanya saya. "Wah nggak ada yang deket mas,
jauh-jauh semua", kemudian dia bilang lagi, "Sepertinya bannya pecah
tuh, nggak bisa dipompa, ganti ban serep saja."
Ya sudah, saya mulai ambil kunci ban, sedangkan orang tersebut hanya
berdiri saja sambil bertelepon dengan ponselnya. Tak lama kemudian saya
denger bunyi "klik", saya coba melongok ke asal bunyi. Alangkah
kagetnya, saya lihat ada orang sedang membawa tas saya berjarak 5 meter
dari mobil saya. Reflek, saya teriak "maliiiiingggg..." sambil ngejar
orang itu (Mungkin ini teriakan terkeras saya sejak 16 tahun ini.
Terakhir teriak seperti ini mungkin pada saat OS mahasiswa dulu).
Mungkin orang itu kaget, tas saya dilemparnya ke samping. Bodohnya saya
(atau karena terlalu sayang sama isi tas), saya ambil dulu tas, saya
ranselkan (kebetulan tas saya model ransel), baru ngejar orang itu
lagi. Sudah agak jauh, mungkin sekitar 15 meteran, tapi tetap saya
kejar. Dalam benak saya, meskipun jauh masih yakin akan terkejar, toh
saya bisa sambil neriakin "maling", sehingga orang-orang di depan saya
akan ikutan bantuin. Ternyata harapan saya salah, sudah ada motor yang
nunggu orang itu. Langsung saja dia naik motor dan kabur. Orang-orang
di pinggir jalan hanya bisa terbengong, termasuk saya sendiri.
Balik ke mobil, ternyata orang yang tadinya "pura-pura" bantuin saya
sudah menghilang. Saya yakin dia berkomplot dengan penjambret. Saat
"pura-pura" membantu, dugaan saya dia mengintip kabin dan
memberitahukan melalui ponselnya ke penjambret adanya tas di belakang
jok depan. Selain itu, setelah saya ganti ban dan jalan, ternyata ada
tambal ban deket situ, hanya sekitar 50 meter, padahal sebelumnya dia
bilang tidak ada tambal ban yang deket.
Ya sudah, setelah ganti ban, saya lanjutkan perjalanan. Biar tenang,
ban yang bocor saya tambal di dekat kantor. Awalnya saya heran kok bisa
ban tubles begitu cepatnya bocor habis (tidak bocor pelan-pelan). Si
tukang tambal ban bilang, "Ini mah
ranjau mas".
Bukan paku, tapi bentuknya seperti jari-jari payung, ada lubang di
tengahnya, kemudian dipotong runcing. Karena ada lubang di tengahnya,
udara dengan leluasa bisa keluar dari ban. Sempat saya foto dengan
kamera PDA seadanya, berikut foto-foto paku tersebut:
Tas saya berisi sebuah laptop dan dua buah external disk, barang yang
sangat berharga bagi saya, karena baik data maupun backupnya ada di
dalam tas tersebut. Sampai di kantor, saya coba nyalakan laptop,
alhamdulillah masih jalan dengan baik.
Kejadian ini memberikan pelajaran bagi saya agar selalu berhati-hati.
Lain kali kalau mau periksa apapun di luar mobil, pintu harus selalu
terkunci. Rupanya modus kejahatan dengan ranjau paku masih marak di
Jakarta.
copy from
http://anis.hariri.biz/index.php?/archives/21-Musibah-Pagi.html